Dialog seni rupa soroti masalah lukisan palsu

oleh : Hery Suhendra

JAKARTA (Bisnis): Penulis seni rupa Agus Dermawan, yang pernah terlibat dalam proses seleksi yang diadakan balai lelang Christie’s, mengatakan dari 400 lukisan yang masuk untuk diseleksi, sebanyak 25% adalah lukisan palsu.

“Artinya 100 lukisan palsu dan sisanya 300 lukisan dipilih kurang lebih 150 lukisan untuk dilelang dan masuk dalam katalog,” ujarnya dalam dialog seni rupa yang digelar Asosiasi Pencinta Seni (ASPI) dengan tema Dinamika Balai Lelang.

Dalam dialog yang dihadiri sebagian besar kolektor, pencinta seni, sejumlah pimpinan balai lelang, isu lukisan palsu muncul ke permukaan selain soal etika dan tanggung jawab balai lelang

Benny Rahardjo, pimpinan Balai Lelang Masterpiece, menjelaskan proses seleksi karya seni yang dilelang pihaknya dengan cara mencek dan menilai yang dilakukan timnya. Bila pelukisnya masih hidup bisa dicek kepada pelukisnya. Sementara bila pelukisnya sudah wafat, ditanyakan pada keluarganya seperti istrinya. Bila meragukan, tidak dipilih atau diikutsertakan dalam lelang.

Sementara itu Daniel Komala, pimpinan Balai Lelang Larasati yang tampil sebagai pembicara, mengatakan pihaknya mempunya tim seleksi. Daniel mengakui yang paling sulit menyeleksi lukisan old master. Kemungkinan masuknya lukisan palsu, katanya, memang bisa terjadi. “Kalau pada saat preview ada bukti baru bahwa itu palsu, kami withdraw,” katanya.

Kolektor dan pemerhati seni, Oei Hong Djien, yang tampil sebagai pembicara mengatakan balai lelang di Indonesia masih baru, bila rancu dapat dimengerti. “Sotheby’s dan Christie’s saja bisa kesandung,” katanya.

Di sini, kata Hong Djien, tidak ada undang-undangnya. Hal ini harus diantisipasi, kalau mau mempunyai balai lelang yang profesional.

“Harga yang dimainkan, goreng menggoreng sangat merugikan dunia seni rupa,” katanya.

Menurut dia, balai lelang harus kreatif karena tidak dapat mencari karya pelukis kondang yang almarhum. “Bila lukisan pelukis kondang itu berada di tangan yang ekonominya kuat, susah keluar. Akibatnya banyak pemalsuan.”

Dia mengakui sulit untuk cek otentik karena tidak mempunyai pakar. Dia mencontohkan Hendra Gunawan, berapa lukisannya, temanya, siapa yang koleksi. “Untuk itu perlu riset dan dana,” katanya.

Seorang kolektor, Putra , yang hadir malam itu bertanya kepada pembicara Keong Rouh Ling dari Southeast Asian Pictures Department Christie’s yang akan menyelenggarakan lelang pada 29 Mei 2005 di Hong Kong.

Putra mempertanyakan salah satu karya yang akan dilelang adalah karya Raden Sarief Bustaman Saleh yang dalam katalog tertulis A family promenades along a path with two tigers in wait and the Borobudur in the background. Dia mempertanyakan hal itu karena karya tersebut sama dengan karya yang dibelinya dalam lelang Sotheby’s pada 3 Oktober 1999 di Singapura seharga Sin$2,4 juta.

Putra mengungkapkan dan menunjukkan surat yang menyatakan keautentikan lukisannya dari seorang kurator akhli seni dari Belanda Drs.W.F.Rappard. Dia mempertanyakan pernyataan keautentikan yang juga dikeluarkan Rappard terhadap karya Raden Saleh untuk lelang Christie’s mendatang sifatnya verbal atau tertulis.

Keong Rouh Ling menyatakan pihak Christie’s telah mendapatkan surat dari Rappard bahwa itu karya Raden Saleh. Sebaliknya Putra mempersoalkan surat itu muncul setelah dia mempertanyakan soal ini beberapa hari lalu.

Perdebatan soal karya Raden Saleh ini akhirnya dihentikan oleh moderator, Chris Darmawan. Menurut Putra, ada yang mengusulkan agar hal ini diselesaikan lewat panel internasional, dengan menilai kedua lukisan tersebut.

Sumber : http://www.bisnis.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: