POPO ISKANDAR

POPO ISKANDAR


Didampingi istrinya, Djuariah, ayah sebelas anak ini bertolak ke Negeri Belanda, 1985. Ingin mengambil gelar doktor, ia malah diundang menjadi dosen kehormatan di Institut Kesenian Amsterdam, selama setahun. ”Ini surprise,” ujarnya. ”Semula saya mau belajar, ee . malah diminta mengajar.” Sebelum berangkat, kakek sejumlah cucu ini belajar jaipong. ”Biar nanti tak malu, bila saya harus menari di suatu acara kesenian,” katanya.

Ayahnya, Almarhum R.H. Natamihardja, pensiunan mantri bank, mengharapkan Popo menjadi arsitek. Ternyata, ia gagal di jurusan arsitektur, tetapi berhasil meraih gelar sarjana muda matematika. Popo lalu menempuh Jurusan Seni Rupa ITB, 1953. Selesai lima tahun kemudian, ia lalu mengajar di alma maternya.

Selain itu, ia juga dosen seni rupa IKIP Bandung, dan pembantu dekan Fakultas Keguruan Sastra & Seni di institut yang sama. Karier mengajar ia mulai di sebuah SMP di Bandung, 1950. Ia mampu berkarya dan berprestasi sambil mengajar. Departemen P&K menganugerahi Popo Hadiah Seni, 1980, dengan predikat ”seniman dan pembina seni kontemporer”.Melukis sejak berusia 18 tahun, ia berguru kepada Angkama, Hendra Gunawan, dan Barli Sasmitawinata. Popo juga bergaul rapat dengan Sudjojono dan Agus Djaja.

Paling tidak, sudah 20 kali ia berpameran tunggal. ”Pameran bersama tak ingat lagi berapa kali,” katanya. Di luar negeri ia antara lain pernah berpameran di Tokyo, Rio de Janeiro, New Delhi, Kuala Lumpur, dan Beijing.

Suatu ketika, Popo berkunjung ke Bateau Lavoir — bekas studio pelukis Picasso dan Braque, di Paris. ”Sangat bersahaja,” komentarnya. Di dekat rumahnya, di lingkungan kompleks IKIP Bandung, ia lalu mendirikan studio serupa, 1979. ‘Museum Pribadi’ ini mirip punya Affandi di Yogya. Bangunannya 150 mu22 di atas tanah seluas 600 mu22. Biayanya Rp 9 juta, ”Dikorek dari kocek sendiri,” tuturya.

Di samping laut, bambu, buket, perahu, dan ayam jago, Popo lekat dengan tema kucing. ”Tabiat kucing variatif,” katanya. ”Manja, binal, dan buas. Tapi penurut. Karena itu, saya menyukainya.”

Popo juga menulis buku, di antaranya Affandi, Suatu Jalan Lain dalam Ekspresionisme, 1978. Selain di harian Pikiran Rakyat, dan Kompas, esei Popo sering muncul di majalah Horison.

Bersama Rusli dan Mochtar Lubis, Popo berpameran, di Balai Budaya, Jakarta, 1985. ”Ia masih memiliki ‘greget’ melukis,” komentar seorang pengamat.

 

Nama :
POPO ISKANDAR

Lahir :
Garut, Jawa Barat, 17 Desember 1927

Pendidikan :
– Sarjana Muda Matematika ITB
– Sarjana Seni Rupa ITB, 1958
– Belajar melukis pada Angkama, Hendra, dan Barli.

Karir :
– Guru SMP di Bandung, 1950
– Sekolah Guru di Bandung, 1956
– Asisten Dosen ITB, 1957
– Dosen ITB (1957-1961)
– Pembantu Dekan FKSS IKIP Bandung (1970-1973)
– Dekan Seni Rupa LPKJ (1971)
– Lektor Kepala IKIP Bandung (1979 — sekarang) Kegiatan lain: Kolumnis di harian Pikiran Rakyat, Bandung

Karya :
– Affandi, Suatu Jalan Lain dalam Ekspresionisme, 1978
– Sejarah Senirupa Indonesia Modern (bersama Kusnadi)

Alamat Rumah :
Kompleks IKIP Bandung, Jalan Setiabudi, Bandung

Alamat Kantor :
IKIP Bandung, Jalan Setiabudi, Bandung

 

Sumber : http://www.pdat.co.id/ads/html/P/ads,20030625-34,P.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: