Archive Page 2

Seniman Landing Soon #1 : Angki Purbandono, Lieven Hendricks, Sara Nuytemans, Arya Panjalu

Selama rentang waktu ‘residensi’ tiga bulan, seniman perupa Belanda dan Indonesia ‘mendarat’ dan bertemu di Yogyakarta. Dalam ‘LANDING SOON’, lokalitas sebagaimana globalitas dipertanyakan dan diteliti ulang melalui berbagai tema, visi maupun kondisi. Para seniman diberi kesempatan untuk sepenuhnya konsentrasi bekerja, melakukan uji coba dan interaksi sesama seniman, profesional maupun komunitas tertentu.

Rumah Seni Cemeti membuka kesempatan kepada seniman Indonesia untuk mengikuti program residensi LANDING SOON yang akan berlangsung sampai dengan Juli 2009.

Dalam setiap periode akan di pilih satu seniman Indonesia dan satu seniman Belanda. Peserta residensi harus bersedia untuk terlibat penuh selama 3 bulan. Fasilitas studio, tempat penginapan, biaya produksi dan biaya hidup selama residensi di tanggung oleh Rumah Seni Cemeti.

LANDING SOON merupakan program kerjasama pertukaran yang diselenggarakan oleh Artoteek Den Haag di Belanda dan Rumah Seni Cemeti Yogyakarta, Indonesia. Didukung oleh Artoteek Den Haag, Belanda dan Program Pengembangan dan Kebudayaan, Kedutaan Belanda di Jakarta.

Jika anda tertarik untuk mengikuti program ini, silahkan menghubungi kami:
Miranda (manajer program). Email: residency@cemetiarthouse.com.

 

Tentang Program Residensi LANDING SOON

Penjabaran secara kongkrit program residensi Landing Soon dari tahun 2006 secara umum bisa diturunkan menjadi
a, periode kreatifitas  produksi estetik dan  etik gagasan;
b. periode pendampingan atas gerakan seni dan masyarakat ala Yogyakarta;
c. periode mendorong para perupa muda terjun di kancah lalu lintas perbincangan wacana seni rupa kontemporer dunia.

Studio Residensi Cemeti dilengkapi dengan infrastruktur seorang manajer studio, seorang asisten seniman yang selalu bergantian tiap tiga bulan sekali, dan seorang penjaga malam serta pengurus rumah tangga.
Para seniman partisipan dibebaskan dari beban finansiil untuk akomodasi dan biaya hidup selama 3 bulan. Sebaliknya para seniman mendapatkan dukungan finansial untuk eksperimentasi gagasan, produksi estetik dan pengadaan semacam katalog. Ruang pameran dan presentasi di Rumah Seni Cemeti selama 1 minggu.

Kurang lebih tiga minggu pertama setelah mendarat dan melampaui masa perkenalan dan penyesuaian cuaca. Para seniman diwajibkan membuat presentasi atas perkembangan karya individu dalam kurun waktu 2 hingga 3 tahun ke belakang di hadapan para undangan; seniman-seniman Yogyakarta dengan berbagai displin medianya, aktifist seni, penulis kritik, wartawan seni dan sebagainya, Forum ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menetralkan ’referensi curriculum vitae’ masing-masing seniman, sehingga dengan mudah dan cepat bisa bergaul dan berbaur ke dalam lingkungannya, memahami dan mengapresiasi satu terhadap yang lain.

Pada saat yang sama forum ini menjadi saksi bahwa residensi mereka telah dimulai.  Empat hingga 6 minggu pertama, para seniman baik individu maupun bersama harus  merancang bentuk diskusi seputar karya masing-masing dalam forum perkuliahan maupun seminar, workshop dan pelatihan serta apresiasi bentuk lain yang dimaksudkan sebagai bentuk pendampingan seni dan masyarakat.  Dengan berlalunya 6 minggu pertama  hingga menjelang  penutupan pameran dan presentasi kerja mereka maka,  minggu minggu yang berjalan adalah puncak produksi kerja kreatif!

Sebagai seniman terpilih,  mereka  banyak mendapatkan asistensi, pendampingan  dan dukungan pemantauan oleh manajer studio melalui rapat progres residensi setiap minggu. ’Support’ gagasan dan pencerahan dari nara sumber ahli seperti, antropolog, arsitek, geolog, kurator, sosiolog, sampai kepada tokoh-tokoh LSM, seniman tradisional, dalang, pengrawit, pengrajin, artisan dan tukang-tukang ahli lain; pekerja film pun; bisa diatur oleh manajer studio untuk mendukung proses kreatif kerja residensi!

Seleksi seniman partisipan residensi LANDING SOON

Setiap periode residensi selama 3 bulan. Ditempatkan satu orang seniman perupa lokal (dari dalam Indonesia termasuk Yogyakarta) dan satu orang seniman dari Belanda. Seleksi seniman yang dikirim dari Belanda dilakukan oleh Heden Kunst van Nu (Heden, Seni dan Sekarang); dahulu dikenal sebagai Artoteek Den Haag;  sedangkan seleksi atas seniman lokal dilakukan oleh Rumah Seni Cemeti.
Rumah Seni Cemeti melakukan penjaringan melalui proposal-proposal calon seniman residen yang diajukan baik melalui post maupun email. Rumah Seni Cemeti juga melakukan penunjukkan langsung atas potensi calon yang dianggap mampu dan memenuhi kriteria, telah bekerja dengan disiplin media selama lebih dari 5 tahun. Aktif melakuikan eksplorasi gagasan, memiliki kemudahan bergaul atau berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Kedua seniman partsipan terpilih akan didampingi oleh seorang asisten, yang akan memperkenalkan mereka pada jaringan struktur  sosial budaya kesenian di Yogyakarta. Membawa dan memperkenalkan para seniman pada potensi bahan, teknik kerajinan tradisional, home industri dan industri modern serta potensi besar para artisan di Yogyakarta. Dengan demikian para seniman partisipan diharapkan terhindar/terbabaskan dari hambatan jebakan teknis pengulangan produksi artistik semata. Sebaliknya mereka lebih mendapatkan tantangan dan dorongan untuk mengolah dan mengembangkan gagasan serta pemikiran! Asisten seniman residensi ini bagaikan tangan kanan riset ala seniman.residen.

Partisipasi aktif seniman residensi LANDING SOON dalam kancah wacana seni rupa Internasional

Gemblengan dalam pendadaran seniman residensi selama pendampingan kegiatan seni dan masyarakat menjadi latihan yang  strategis,  untuk mempersiapkan para seniman  aktif dan partisipatif dalam kancah perbincangan wacana seni rupa Internasional.
Diskusi dan tatap muka dalam dalam kesempatan ’artist talk’, seminar dan  perkuliahan resmi untuk pendidikan dan pelatihan seni yang formal akademik seperti ISI Yogyakarta, ISI Solo, IKJ Jakarta, Jurusan Arsitektur Duta Wacana, Antropologi UGM Galeri-galeri dan museum non komersiil,  ruang-ruang alternatif pengajaran dan pendidikan publik melalui seni; Kinoki, Kine Club Yogyakarta;  Lembaga Indonesia Perancis, Sanggar anak-anak Cakrawala, Papermoon, Insomnium kota Malang; Sanggar anak-anak Taman Budaya, Yayasan Pendidikan Anak-anak cacat Yakum Yogyakarta, sekolah sekolah SMA dan SMP di Yogyakarta, LSM, serta pusat-pusat kajian pengembangan kota seperti Green Map.
Tidak banyaknya seniman-seniman perupa kontemporer, kurator dan pengamat muda yang  berpartisipasi aktif dalam forum seni rupa internasional seperti Bienal, Triennalle dalam dekade terakhir;  sebaliknya terjadi luapan bertubi tubi atas partisipasi seniman perupa Indonesia dalam arena lelang, art fair dan kompetisi memperebutkan hadiah nominal, merupakan fenomena global khas yang menggelitik untuk disikapi secara lebih ’allert’
Arya Panjalu seniman LANDING SOON #1 meneruskan program residensi berkelanjutan di Den Haag Belanda bersama Sara Nuyteman. Tintin Wulia seniman Landing Soon #5  mengikuti pameran BECOMING DUTCH bersama 35 seniman Internasional di Vanabbemusuem Eindhoven Belanda., Jompet Seniman LANDING SOON #4 sedang menyiapkan karya baru dalam partisipasinya di Triennal Yokohama bulan Nopember tahun ini. Yang terakhir adalah Wimo Ambala Bayang menyiapkan pameran kelompok bersama seniman2 Belanda di Den Haag, setelah sebelumnya menyelesaikan pameran keliling proyek sejarah Masa Lalu Masa Lupa.

Sumber : www.cemetiarthouse.com


Edhi Sunarso

Edhi Sunarso, pematung beberapa monumen dan diorama sejarah yang tersebar di beberapa kota Indonesia. Di antaranya patung Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia dan Diorama Sejarah Monumen Nasional di Jakarta. Karena karya-karyanya yang luar biasa, maka negara telah menganggapnya berjasa besar terhadap bangsa dan negara dalam meningkatkan, memajukan, dan membina kebudayaan nasional, sehingga pada 12 Agustus 2003 dianugrahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.

 

“Selamat datang di Jakarta”, begitulah Tugu Selamat Datang menyambut kita setiap melintas dari bundaran HI dimana tugu tersebut berdiri. Begitu juga setiap kita melintas di prapatan Pancoran, kita sering dengan refleks menoleh ke atas, seakan-akan dalam hati bertanya, “masihkah Monumen Dirgantara ada diatas sana?” Begitulah respon kita dan mungkin respon semua orang dalam mengagumi hasil karya manusia yang selalu mengundang decak kagum tersebut. Namun mungkin hanya sedikit diantara kita yang mengetahui siapa orang yang sangat ahli membuat patung-patung tersebut.

Seni memang suatu hal yang berlaku dan bernilai universal. Tidak ada seorangpun yang tidak menyukai seni. Dan sebaliknya, tidak banyak orang yang mempunyai keahlian dan bakat seni. Dan hanya beberapa orang pula diantara orang-orang yang mempunyai bakat dan keahlian itu yang berhasil mencatatkan sejarah secara monumental karena jasanya yang cukup besar dalam meningkatkan dan membina kebudayaan nasional.

Anak dari Somo Sarjdono, ini telah menghasilkan karya-karya yang akan menjadi simbol peringatan bersejarah di negeri ini, yaitu Monumen Pembebasan Irian Barat di Jakarta, Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya di Jakarta, Monumen Selamat Datang di Jakarta, Monumen Dirgantara di Jakarta, Monumen Tugu Muda di Semarang, Monumen Jenderal Ahmad Yani di Bandung, Monumen Jenderal Gatot Subroto di Surakarta, Monumen Pahlawan Samudera Yos Sudarso di Surabaya, Monumen Panglima Besar Sudirman di Cilangkap (Mabes TNI), Jakarta, Monumen Panglima Besar Sudirman di Moseum PETA di Bogor, Monumen Yos Sudarso di Biak, Irian barat, Monumen Pahlawan Tak Di Kenal di Digul Papua, Monumen Sultan Thaha Syafudin di Jambi. Disamping Monumen-monumen tersebut, dia juga berkarya dalam bentuk diorama yaitu, Diorama Sejarah Monumen Nasional di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Lubang Buaya di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Pancasila Sakti Lubang Buaya di Jakarta, Diorama Sejarah Museum ABRI Satria Mandala di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Purbawisesa di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Jogya Kembali di Yogyakarta, Diorama Sejarah Museum Keprajuritan Nasional, (TMII) di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Perhubungan (TMII) di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Tugu Pahlawan 10 November Surabaya di Surabaya, Diorama Sejara Museum Beteng Vredeburgh di Yogyakarta.

Sang Pematung kelahiran Salatiga, 2 Juli 1932 ini mempunyai keahlian yang mumpuni, tidaklah diperolehnya begitu saja tanpa disengaja. Namun, disamping sudah merupakan bakatnya sejak kecil, dia juga selalu belajar dan berlatih sendiri, termasuk ketika di kamp TRI. LOG. Bandung selama menjadi tawanan perang Tentara Kerajaan Belanda (KNIL) pada tahun 1946 sampai 1949. Disamping itu, dia juga merupakan lulusan ASRI, Yogyakarta tahun 1955 dan lulusan Kelabhawa Visva Bharati University Shantin Ketan India pada tahun 1957.

Disamping sebagai pematung, ayah dari 4 orang anak yaitu: Rosa Arus Sagara, Titiana, Irawani, Satya Sunarso, dan Sari Prasetyo Angkasa, buah perkawinannya dengan Kustiah ini juga aktif sebagai Dosen Pasca Sarjana (S2) Insitut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Di dunia pendidikan, sejak tahun 1958-1959 dia sudah aktif sebagai staf pengajar pada Akademi Kesenian Surakarta di Surakarta, kemudian pada tahun 1959-1967 mengajar pada Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ASRI Yogyakarta sebagai Ketua Jurusan Seni Patung. Pada tahun 1967-1981 sebagai tenaga pengajar pada Institut Kejuruan Ilmu Pendidikan Negeri (IKIP) Yogyakarta, dan pada tahun 1968-1984 sebagai pengajar merangkap asisten Ketua Bidang Akademik STSRI/ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, dan sebagai pengajar pada Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan sebagai Sekretaris Senat Instiut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Pria anggota Korps Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai mantan Pejuang Pasukan Samber Nyawa Divisi I, Bataliyon III, Resimen V Siliwangi ini beberapa kali mengadakan pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Pada tahun 1956, dia sudah mengadakan Pameran Tunggal di Santiniketan, India. Pada tahun 1957 dia juga mengadakan Pameran Tunggal di tempat yang sama dan mengikuti Pameran Nasional ALL India di India. Sedangkan pada tahun 1959, dia mengadakan Pameran Bersama Istri di Yogyakarta. Selanjutnya pada tahun 1987, bersama But Mohtar, G.Sidharta, Rita Widagdo, mereka mengadakan Pameran Berempat.

Disamping tanda kehormatan bintang Budaya Parama Dharma yang baru saja diterima, dia juga telah memiliki beberapa Tanda Penghargaan antar lain, Lomba seni Patung Internasional di Inggris The Unknoun Political Prosoner pada tahun 1953, Medali Emas dari Pemerintah India untuk Karya Seni Patung Terbaik pada tahun 1956-1957, Piagam Seni dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1984, dan Piagam Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk Karya Monumental pada tahun 1996.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Sumber : http://www.tokohindonesia.com


Kumpulan Silabus , RPP , KTSP Yang dapat di download antara lain :

Untuk file zip butuh tool untuk extrax file, untuk file exe klik mouse dua kali langsung mengextrak sendiri ke target penyimpanan.

  1. Geografi , Kelas 7 , Kelas 8 , Kelas 9
  2. Ekonomi , Kelas 7 , Kelas 8 , Kelas 9
  3. Matematika , Kelas 7, Kelas 8 , Kelas 9
  4. Pkn untuk Kelas VII Silabus , RPP, Kelas VIII Silabus, RPP, Kelas IX Silabus, RPP
  5. Biologi Kelas 7, Kelas 8 , Kelas 9
  6. Bahasa Inggris , Kelas VII , Kelas VIII , Kelas IX
  7. Sejarah Kelas 7 , Kelas 8, Kelas 9
  8. IPA terpadu Kelas
  9. IPA Fisika untuk Kelas 7, Kelas 8 , Kelas 9
  10. Bahasa Indonesia Kelas
  11. IPA Kimia untuk Kelas
  12. Sosiologi untuk Kelas 7 , Kelas 8 , Kelas 9
  13. Teknologi Informasi dan Komunikasi TIK, Kelas 7, Kelas 8, Kelas 9
  14. Pendidikan Seni Budaya Kelas 7,8,9 Seni Musik, Seni Rupa, Seni Tari, Seni Teater
  15. Pendidikan Agama Islam (PAI) : Kelas 7, Kelas 8 , Kelas 9
  16. IPS Terpadu TAG : Kelas 7, Kelas 8 , Kelas 9
  17. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas 7, Kelas 8 , Kelas 9

Bagi rekan rekan guru yang gagal waktu download mohon meninggalkan pesan.

Setiap dapat Silabus, RPP yang baru Insya Allah akan selalu kami Update

Semoga bermanfaat


POPO ISKANDAR

23Sep08

POPO ISKANDAR


Didampingi istrinya, Djuariah, ayah sebelas anak ini bertolak ke Negeri Belanda, 1985. Ingin mengambil gelar doktor, ia malah diundang menjadi dosen kehormatan di Institut Kesenian Amsterdam, selama setahun. ”Ini surprise,” ujarnya. ”Semula saya mau belajar, ee . malah diminta mengajar.” Sebelum berangkat, kakek sejumlah cucu ini belajar jaipong. ”Biar nanti tak malu, bila saya harus menari di suatu acara kesenian,” katanya.

Ayahnya, Almarhum R.H. Natamihardja, pensiunan mantri bank, mengharapkan Popo menjadi arsitek. Ternyata, ia gagal di jurusan arsitektur, tetapi berhasil meraih gelar sarjana muda matematika. Popo lalu menempuh Jurusan Seni Rupa ITB, 1953. Selesai lima tahun kemudian, ia lalu mengajar di alma maternya.

Selain itu, ia juga dosen seni rupa IKIP Bandung, dan pembantu dekan Fakultas Keguruan Sastra & Seni di institut yang sama. Karier mengajar ia mulai di sebuah SMP di Bandung, 1950. Ia mampu berkarya dan berprestasi sambil mengajar. Departemen P&K menganugerahi Popo Hadiah Seni, 1980, dengan predikat ‘’seniman dan pembina seni kontemporer”.Melukis sejak berusia 18 tahun, ia berguru kepada Angkama, Hendra Gunawan, dan Barli Sasmitawinata. Popo juga bergaul rapat dengan Sudjojono dan Agus Djaja.

Paling tidak, sudah 20 kali ia berpameran tunggal. ”Pameran bersama tak ingat lagi berapa kali,” katanya. Di luar negeri ia antara lain pernah berpameran di Tokyo, Rio de Janeiro, New Delhi, Kuala Lumpur, dan Beijing.

Suatu ketika, Popo berkunjung ke Bateau Lavoir — bekas studio pelukis Picasso dan Braque, di Paris. ”Sangat bersahaja,” komentarnya. Di dekat rumahnya, di lingkungan kompleks IKIP Bandung, ia lalu mendirikan studio serupa, 1979. ‘Museum Pribadi’ ini mirip punya Affandi di Yogya. Bangunannya 150 mu22 di atas tanah seluas 600 mu22. Biayanya Rp 9 juta, ”Dikorek dari kocek sendiri,” tuturya.

Di samping laut, bambu, buket, perahu, dan ayam jago, Popo lekat dengan tema kucing. ”Tabiat kucing variatif,” katanya. ”Manja, binal, dan buas. Tapi penurut. Karena itu, saya menyukainya.”

Popo juga menulis buku, di antaranya Affandi, Suatu Jalan Lain dalam Ekspresionisme, 1978. Selain di harian Pikiran Rakyat, dan Kompas, esei Popo sering muncul di majalah Horison.

Bersama Rusli dan Mochtar Lubis, Popo berpameran, di Balai Budaya, Jakarta, 1985. ”Ia masih memiliki ‘greget’ melukis,” komentar seorang pengamat.

 

Nama :
POPO ISKANDAR

Lahir :
Garut, Jawa Barat, 17 Desember 1927

Pendidikan :
- Sarjana Muda Matematika ITB
- Sarjana Seni Rupa ITB, 1958
- Belajar melukis pada Angkama, Hendra, dan Barli.

Karir :
- Guru SMP di Bandung, 1950
- Sekolah Guru di Bandung, 1956
- Asisten Dosen ITB, 1957
- Dosen ITB (1957-1961)
- Pembantu Dekan FKSS IKIP Bandung (1970-1973)
- Dekan Seni Rupa LPKJ (1971)
- Lektor Kepala IKIP Bandung (1979 — sekarang) Kegiatan lain: Kolumnis di harian Pikiran Rakyat, Bandung

Karya :
- Affandi, Suatu Jalan Lain dalam Ekspresionisme, 1978
- Sejarah Senirupa Indonesia Modern (bersama Kusnadi)

Alamat Rumah :
Kompleks IKIP Bandung, Jalan Setiabudi, Bandung

Alamat Kantor :
IKIP Bandung, Jalan Setiabudi, Bandung

 

Sumber : http://www.pdat.co.id/ads/html/P/ads,20030625-34,P.html


Didasari oleh pemikiran untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya apresiasi seni, sejalan dengan perkembangan seni yang maju pesat, serta hendak menyediakan tempat/ruang untuk menampilkan karya dari para seniman agar dapat dinikmati oleh umum, maka didirikanlah Museum Barli yang diresmikan oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (MENPARPOSTEL) pada tanggal 26 Oktober 1992. Pembangunan Museum Barli—sebenarnya berdasarkan gagasan Barli Sasmitawinata yang terpendam sejak puluhan tahun lalu. Maka dengan tanpa mengenal batas dan perannya dalam mewujudkan cita-cita, ikut pula seluruh keluarganya dalam upaya mendukung berdirinya museum ini. Dengan dibantu pula oleh Charles Ali—arsitek muda Bandung, maka terwujudlah gagasan itu.

Berdirinya Museum Barli juga memperlihatkan perkembangan gaya seni lukis seorang Barli, sebagai anggota “Kelompok Lima Bandung” (bersama Affandi, Hendra Gunawan, Wahdi, dan Sudarso) dari masa ke masa, mulai dari aliran realisme, dari masa awal langkah Barli sebagai pelukis, impersionisme dan ekspresionisme.

Museum yang berperan sebagai sarana apreasi ini mengumpulkan banyak karya seni rupa pilihan dengan nilai-nilai estetik yang patut menjadi tonggak sejatah perjalanan seni rupa Bandung.

Dalam perkembangannya, museum ini telah banyak pula memberi andil besar serta meningkatkan rasa cinta tanah air dan perkembangan seni budaya. Aneka ragam kegiatan yang diselenggarakan dalam ruang-ruang khusus, seperti: pameran karya seni rupa (dalam ruang pameran), penjualan karya pameran, diskusi, saresehan kesenirupaan dengan tema-tema beragam: sosial, budaya, ekonomi, dan IPTEK (ruang diskusi), penjualan kriya, souvenir, merchandise galeri, workshop dan pelatihan studio keramik dan lukis (ruang pelatihan), penerbitan berita-berita acara dan pendokumentasian.

Sejarah singkat tentang Barli

KINI, di Bandung ada banyak bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda yang dilindungi Undang-Undang Cagar Budaya, agar tidak dirusak oleh masyarakat. Tapi, jika masyarakat ingin mengetahui apa dan bagaimana aktivitas orang-orang Belanda di Kota Bandung ketika itu, di museum mana kita bisa mendapatkan data-data tentang itu semua? DALAM bidang seni rupa misalnya, ada banyak kalangan kritikus seni rupa yang mengatakan bahwa perkembangan dan pertumbuhan seni rupa modern di Indonesia dimulai dari Bandung. Tapi soalnya kemudian, adakah di Bandung sebuah museum seni rupa yang bisa menjelaskan semua itu dengan tuntas? Pertanyaan semacam itu sangat mudah dijawab bahwa di Bandung ada Selasar Sunaryo Art Space, yang memamerkan karya-karya seni rupa kontemporer dari pelukis Sunaryo dan Museum Barli yang memamerkan karya-karya lukisan dari pelukis Barli Sasmitawinata, itu semua dibangun secara swadaya alias dari kocek para senimannya. Demikian juga dengan adanya Serambi AD Pirous yang memamerkan karya-karya pelukis AD Pirous dan istrinya, Erna Pirous, serta Studio Lukis Jeihan yang memamerkan karya-karya pelukis Jeihan Sukmantoro. Termasuk, Sanggar Luhur milik almarhum pelukis Sudjana Kerton.

Barli Sasmitawinata

Maestro Seni Lukis Realistik Indonesia
Barli Sasmitawinata adalah seorang maestro seni lukis realistik. Pria yang lahir di Bandung 18 Maret 1921 itu menjadi pelukis berawal atas permintaan kakak iparnya, tahun 1935, Sasmitawinata, agar Barli memulai belajar melukis di studio milik Jos Pluimentz, seorang pelukis asal Belgia yang tinggal di Bandung.

Barli lalu banyak belajar melukis alam benda dan dia adalah satu-satunya murid pribumi di studio tersebut. Di studio itu Barli banyak belajar mengenal persyaratan melukis.

Barli dilatih secara intensif melihat objek karena realistik masih sangat populer ketika itu. Pluimentz sang guru, pun selalu berkata, cara melihat seniman dan orang biasa harus berbeda.

Orang biasa tidak mampu melihat aspek artistik sesuatu benda sebagaimana seniman.


Barli di kemudian hari belajar kepada Luigi Nobili, pelukis asal Italia. Di studio ini pula Barli mulai berkenalan dengan Affandi, yang waktu itu masih mencari uang dengan menjadi model bagi Luigi. Di studio milik Luigi Nobilo itu diam-diam Affandi ikut belajar melukis.

Bersama Affandi, Hendra Gunawan, Soedarso, dan Wahdi Sumanta, Barli Sasmitawinata membentuk “Kelompok Lima Bandung”. Kelompok itu dibentuk berawal dari kekaguman yang sangat dari seorang Barli dan ketiga temannya terhadap Affandi. Hubungan di antara kelima anggota kelompok akhirnya terbentuk menjadi seperti saudara saja. Kalau melukis kemana-mana selalu bersama-sama. Termasuk kesempatan perjalanan Barli hingga ke Bali.

Barli di tahun 1948 pernah mendirikan Sanggar Seni Rupa Jiwa Mukti. Lalu, sepulang dari Eropa, di tahun 1958 Barli kembali mendirikan studio Rangga Gempol. Sekarang Barli memiliki Bale Seni Barli di Padalarang. Barli menyebutkan sebuah cita-cita yakni ingin punya murid yang tidak saja pandai menggambar tetapi bisa hidup bersama dengan yang lain.

Barli adalah pelukis sekaligus guru. Sudah banyak mahasiswa yang dia ajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) maupun murid yang dia bimbing di sanggar seni miliknya, tumbuh menjadi seniman mandiri. Beberapa di antara mantan mahasiswa dan murid itu terkadang ada yang mengabaikan Barli sebagai guru. Namun, yang membanggakan hati dia, tokoh semacam AD Pirous tetap mengakui Barli sebagai salah seorang guru.

Selain AD Pirous, ada pula beberapa muridnya yang kini dikenang sebagai pelukis yang berkarakter, seperti (almarhum) Huang Fong. Atau, Chusin Setiadikara yang tetap memelihara bekal seni realistiknya tetapi menempuh jalan sulit untuk membuatnya menjadi seni yang terus bisa bermakna di tengah percaturan berbagai gaya dan kecenderungan seni yang baru.

Perjalanan karir lukis Barli dimulai sejak tahun 1930-an sebagai ilustrator terkenal di Balai Pustaka, Jakarta. Dia juga dipakai sebagai ilustrator untuk beberapa koran yang terbit di Bandung. Keterampilan tersebut masih berlanjut di tahun 1950-an saat dia sudah melangglang buana ke mancanegara. Yakni, ketika Barli diangkat menjadi ilustrator pada majalah De Moderne Boekhandel di Amsterdam, dan majalah Der Lichtenbogen di Recklinghausen, Jerman. Barli adalah contoh pelukis dan guru yang mendapatkan pendidikan secara baik sejak usia remaja sampai kemudian dia berkesempatan belajar ke Perancis dan Belanda.

Kesempatan Barli studi sekaligus berkiprah di benua Eropa berawal di tahun 1950 tatklala dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda untuk belajar di Academie Grande de la Chaumiere, Paris, Perancis. Barli masih meneruskan studi di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten, Amsterdam, Belanda, sampai tahun 1956. Karena kiprah kepelukisannya yang sedemikian panjang, kritikus seni Jim Supangkat dalam bukunya “Titik Sambung” menempatkan Barli Sasmitawinata sebagai ’titik sambung’ dua gugus perkembangan seni lukis Indonesia: seni lukis masa kolonial dan seni lukis modern Indonesia.

Dijelaskan oleh Jim, di satu sisi Barli dapat dilihat sebagai meneruskan perkembangan seni lukis masa kolonial. Tetapi di sisi lain Barli merupakan bagian dari pertumbuhan seni lukis modern Indonesia yang menentang seni lukis masa kolonial itu sendiri.

Pemerintah RI tampak sangat peduli atas perjalanan karir maestro seni lukis realistik Indonesia ini. Bertepatan dengan hari lahirnya pada 18 Maret 2004 beberapa karya lukisnya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta. Termasuk dipamerkan sebuah lukisan yang Barli selesaikan hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya ke-83, berukuran lebih dari dua meter kali dua meter. Pembukaan pameran dilakukan langsung oleh Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, I Gede Ardika, berlangsung sejak 18 hingga 31 Maret 2004.

Bahkan, PT Pos Indonesia turut menunjukkan penghargaan yang sangat tinggi kepada seniman besar kelahiran Bandung itu. Pos Indonesia khusus menerbitkan prangko yang bergambar reproduksi lukisan Potret Diri, sebuah lukisan terkenal yang Barli buat di tahun 1974.


Bersamaan perayaan ulang tahun ke-83 itu diluncurkan pula sebuah buku karangan Nakisbandiah, istri kedua Barli setelah istri pertama meninggal dunia 11 Juli 1991, berjudul “Kehidupanku Bersama Barli”. Barli pertamakali menikahi (almarhumah) Atikah Basari di Pager Ageung tahun 1946 pada saat masih berada di dalam pengungsian karena perang.

Pernikahan pertama itu dikaruniai dua orang anak bernama Agung Wiwekakaputera dan Nirwati Chandra Dewi. Barli lalu kembali menikah saat usia sudah 71 tahun, kali itu dengan Nakisbandiah yang masih tetap setia mendampingi hidupnya. Hasil pernikahan Nakisbandiah sebelumnya dengan (almarhum) D Mawardi dikaruniai empat orang putri, yaitu Kartini, Sartika, Mia Meutia (meninggal tahun 1977), dan Indira. Maka, secara keseluruhan keluarga Barli memiliki 15 cucu dan enam orang buyut.

Barli berperan cukup besar menularkan ilmu kepada murid-muridnya. Entah di kampusnya mengajar ITB Bandung maupun di sanggar seninya. Barli adalah contoh pelukis dan guru yang mendapatkan pendidikan secara baik sejak usia remaja sampai kemudian belajar seni lukis ke Perancis hingga Belanda.

Di Eropa Barli memperoleh banyak prinsip-prinsip melukis anatomi secara intensif. Pelajaran anatomi, untuk pelukis sangat melihat otot-otot yang ada di luar bukan otot yang di dalam. Pernah, selama dua tahun di Eropa Barli setiap dua jam dalam sehari hanya menggambar nude (orang telanjang) saja, sesuatu yang tidak pernah dipersoalkan pantas atau tidak di sana sebab jika untuk kepentingan akademis hal itu dianggap biasa.

Barli menyebutkan, seseorang lulusan dari akademis menggambar orang seharusnya pasti bisa sebab penguasaan teknis akan merangsang inspirasi. Dia mencontohkan pengalaman saat belajar naik sepeda sulit sekali sebab salah sedikit saja pasti jatuh. Namun saat sudah menguasai teknis bersepeda sesorang bisa terus mengayuh sambil pikiran bisa kemana-mana. Melukis pun demikian, jika sudah mengetahui teknisnya maka adalah pikiran dan perasaan pelukis yang jalan.

Walau pelukis realistik Barli mengaku cukup mengerti abstrak sebab menurutnya seni memang abstrak. Seni adalah nilai. Setiap kali melihat karya yang realistik Barli justru tertarik pada segi-segi abstraksinya. Seperti segi-segi penempatan komposisi yang abstrak yang tidak bisa dijelaskan oleh pelukisnya sendiri.

Barli menyebutkan pula, pelukis yang menggambar realistik sesungguhnya sedang melukiskan meaning. Dicontohkannya lagi, kalau melihat seorang kakek maka dia akan tertarik pada umurnya, kemanusiaannya. Sehingga pastilah dia akan melukiskannya secara realistik sebab soal umur tidak bisa dilukiskan dengan abstrak. Menggambarkan penderitaan manusia lebih bisa dilukiskan dengan cara realistik daripada secara abstrak.

Guru dan Pelukis itu Telah Pergi
Barli Sasmitawinata (86), pelukis dan guru yang berperan penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia, telah pergi. Seniman ini meninggal di Rumah Sakit Advent Bandung, Kamis 8 Februari 2007 sekitar pukul 16.30.

“Bapak masuk rumah sakit, Kamis sekitar pukul 08.00, karena sesak napas dan batuk, tapi dahaknya tidak bisa keluar. Sempat ditransfusi darah, tapi Bapak kemudian meninggal,” kata istri Barli, Nakisbandiah (66), saat dihubungi dari Jakarta, Kamis sore.

Kesehatan Barli memburuk setengah bulan terakhir. Ia sempat masuk Rumah Sakit Advent Bandung, 8 Januari 2007, akibat gangguan pernapasan, ginjal, dan gula darah naik. Setelah menjalani enam kali cuci darah, kondisinya sempat membaik dan diperbolehkan pulang. Namun, Kamis kemarin, ia kembali masuk rumah sakit.

Jenazah disemayamkan di rumah dan museum Barli di Jalan Sutami 91, Setrasari, Karangsetra, Kota Bandung. Pemakaman direncanakan Jumat ini. Barli meninggalkan 2 anak kandung, 3 anak tiri, 15 cucu, dan 9 buyut. Setelah istri pertamanya, Atikah Basari, meninggal tahun 1991, Barli menikah lagi dengan Nakisbandiyah tahun 1992.

“Hingga beberapa hari menjelang sakit parah, Bapak tetap melukis dan mengajar. Bahkan, saat di rumah sakit, Bapak masih sempat membuat sketsa orang tidur,” kata anak kedua Barli, Chandra Dewi Rahmadi (57). Barli adalah sosok penting dalam sejarah dan perkembangan seni rupa di Indonesia. Ia dikenal sebagai guru dengan ilmu gambar (drawing) yang mumpuni, pelukis realis yang andal, serta bergabung bersama pelukis perjuangan semasa kemerdekaan. Hingga akhir hayatnya, ia konsisten menekuni pilihannya di tengah perubahan zaman.

Sebagai guru, Barli punya bekal dasar ilmu gambar akademis yang kuat. Maklum saja, ia belajar di Academie Grande de la Chaumiere, Paris, Perancis, tahun 1950, kemudian di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten, Amsterdam, Belanda, sampai tahun 1956.

Seni realistik
Menurut kritikus seni rupa Jim Supangkat, Barli menduduki posisi dalam seni realistik sebagai basis perkembangan seni rupa di Indonesia. Barli melukis wajah-wajah rakyat secara wajar, apa adanya. Itu memberikan citra berbeda di tengah lukisan karya pelukis Belanda yang menggambarkan wajah pribumi dengan jelek. Itu juga lain dengan lukisan Basuki Abdullah, yang terlanjur berhadapan dengan lukisan realis yang lebih mengekspresikan “jiwa kethok”, sebagaimana disuarakan pelukis Soedjojono.

“Karyanya mungkin agak kurang populer dibandingkan dengan karya pelukis Affandi atau Hendra Gunawan. Tetapi, peran Barli dalam dunia seni rupa sangat penting. Dia berada pada ‘titik sambung’ antara seni lukis masa kolonial dan seni lukis modern Indonesia. Kalau mau mencari dasar lukisan realistik, ya ke Barli,” katanya.

Enin Supriyanto, pengamat seni rupa yang pernah belajar melukis pada Barli, mengungkapkan, Barli memahami detail peralatan dan media lukis, seperti pena, tinta, cat air, crayon, dan cat minyak. Ia pun menguasai ilmu-ilmu melukis akademis, antara lain anatomi tubuh manusia, warna, garis, komposisi, atau perpektif.

“Soal anatomi tubuh, Barli bahkan hapal sampai istilah Latin-nya,” kata Enin.

Kemampuan itu berusaha ditularkan Barli kepada murid-muridnya dengan disiplin dan sistem. Setiap murid diminta mengenali karakter alat dan belajar bertahap. Bagi Barli, pelukis harus menguasai ilmu menggambar dengan benar. Sepulang dari Eropa, tahun 1958, Barli mendirikan Sanggar Rangga Gempol di kawasan Dago, Bandung. Barli sempat mengajar seni lukis di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan ikut merintis pembentukan jurusan seni rupa di Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung—sekarang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Setelah itu, Barli memilih lebih banyak mengajar murid secara informal di sanggar. Usai Sanggar Rangga Gempol eksis tahun 1960-1980-an, ia membangun studi sekaligus museumnya di Setrasari, Karangsetra, Bandung, lantas mendirikan Bale Seni Barli di Kota Baru, Padalarang, Bandung.

Keberhasilannya sebagai guru bisa dilihat dari sejumlah muridnya yang mekar menjadi pelukis kuat. Sebutlah beberapa di antaranya, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, Yusuf Affendi, AD Pirous, Anton Huang, R Rudiyat Martadiraja, Chusin Setiadikara, Sam Bimbo, Rudi Pranajaya.

Chusin (58) termasuk salah satu murid yang berhasil mengembangkan dasar ilmu gambar menjadi karya seni yang diperhitungkan dalam peta seni kontemporer. Karyanya punya reputasi baik di dunia internasional. Pelukis yang kini tinggal di Kuta, Bali, ini pernah mengantongi penghargaan dari Beijing International Art Biennale tahun 2005.

Pengamat seni rupa asal Bandung Mamannoor mengungkapkan, Barli menjadi inspirator bagi beberapa generasi pelukis di Bandung. Barli selalu menegaskan, melukis adalah disiplin hidup yang dijalani dengan semangat dan produktif berkarya. Ia berkarya dalam banyak corak, tetapi ketekunannya pada corak realistik dipertahankan lewat pasang-surut pergeseran zaman.

Saat remaja, sekitar tahun pertengahan tahun 1930-an, Barli bergabung dalam ‘Kelompok Lima’ bersama Affandi, Hendra Gunawan, Sudarso, dan Wahdi. Ia punya semangat nasionalis tinggi.

“Saat terjadi perdebatan realisme sosial pertengahan tahun 1960-an, Barli tangguh berdiri sendirian. Ia saksi hidup dan rujukan penting bagi perjalanan seni rupa saat itu,” katanya. Barli pernah menerima penghargaan Satyalencana Kebudayaan dari Presiden pada tahun 2000. Kepergiannya adalah kehilangan besar bagi dunia seni rupa Tanah Air.

Guru gambar di Bale Seni Barli, Hendra (32), mengisahkan, Barli sempat beramanat agar keluarga memelihara lembaga pendidikan itu. Sehari sebelum meninggal, ia sempat meneruskan lukisan di kamar.

 

Alamat:

Jl. Prof. Ir. Sutami 91
Bandung – 40152
Jawa Barat, Indonesia

Telepon : +62 22 20118

Jenis Koleksi:
Memamerkan karya-karya seni rupa kontemporer dan memamerkan karya-karya lukisan dari beberapa pelukis dan seniman terkenal.

 

Sumber Artikel : http://www.bandungtourism.com/act_det_lis_d_i.php?Id=24

 


Edhi Sunarso
Edhi Sunarso, pematung beberapa monumen dan diorama sejarah yang tersebar di beberapa kota Indonesia. Di antaranya patung Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia dan Diorama Sejarah Monumen Nasional di Jakarta. Karena karya-karyanya yang luar biasa, maka negara telah menganggapnya berjasa besar terhadap bangsa dan negara dalam meningkatkan, memajukan, dan membina kebudayaan nasional, sehingga pada 12 Agustus 2003 dianugrahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.

 

“Selamat datang di Jakarta”, begitulah Tugu Selamat Datang menyambut kita setiap melintas dari bundaran HI dimana tugu tersebut berdiri. Begitu juga setiap kita melintas di prapatan Pancoran, kita sering dengan refleks menoleh ke atas, seakan-akan dalam hati bertanya, “masihkah Monumen Dirgantara ada diatas sana?” Begitulah respon kita dan mungkin respon semua orang dalam mengagumi hasil karya manusia yang selalu mengundang decak kagum tersebut. Namun mungkin hanya sedikit diantara kita yang mengetahui siapa orang yang sangat ahli membuat patung-patung tersebut.

Seni memang suatu hal yang berlaku dan bernilai universal. Tidak ada seorangpun yang tidak menyukai seni. Dan sebaliknya, tidak banyak orang yang mempunyai keahlian dan bakat seni. Dan hanya beberapa orang pula diantara orang-orang yang mempunyai bakat dan keahlian itu yang berhasil mencatatkan sejarah secara monumental karena jasanya yang cukup besar dalam meningkatkan dan membina kebudayaan nasional.

Anak dari Somo Sarjdono, ini telah menghasilkan karya-karya yang akan menjadi simbol peringatan bersejarah di negeri ini, yaitu Monumen Pembebasan Irian Barat di Jakarta, Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya di Jakarta, Monumen Selamat Datang di Jakarta, Monumen Dirgantara di Jakarta, Monumen Tugu Muda di Semarang, Monumen Jenderal Ahmad Yani di Bandung, Monumen Jenderal Gatot Subroto di Surakarta, Monumen Pahlawan Samudera Yos Sudarso di Surabaya, Monumen Panglima Besar Sudirman di Cilangkap (Mabes TNI), Jakarta, Monumen Panglima Besar Sudirman di Moseum PETA di Bogor, Monumen Yos Sudarso di Biak, Irian barat, Monumen Pahlawan Tak Di Kenal di Digul Papua, Monumen Sultan Thaha Syafudin di Jambi. Disamping Monumen-monumen tersebut, dia juga berkarya dalam bentuk diorama yaitu, Diorama Sejarah Monumen Nasional di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Lubang Buaya di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Pancasila Sakti Lubang Buaya di Jakarta, Diorama Sejarah Museum ABRI Satria Mandala di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Purbawisesa di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Jogya Kembali di Yogyakarta, Diorama Sejarah Museum Keprajuritan Nasional, (TMII) di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Perhubungan (TMII) di Jakarta, Diorama Sejarah Museum Tugu Pahlawan 10 November Surabaya di Surabaya, Diorama Sejara Museum Beteng Vredeburgh di Yogyakarta.

Sang Pematung kelahiran Salatiga, 2 Juli 1932 ini mempunyai keahlian yang mumpuni, tidaklah diperolehnya begitu saja tanpa disengaja. Namun, disamping sudah merupakan bakatnya sejak kecil, dia juga selalu belajar dan berlatih sendiri, termasuk ketika di kamp TRI. LOG. Bandung selama menjadi tawanan perang Tentara Kerajaan Belanda (KNIL) pada tahun 1946 sampai 1949. Disamping itu, dia juga merupakan lulusan ASRI, Yogyakarta tahun 1955 dan lulusan Kelabhawa Visva Bharati University Shantin Ketan India pada tahun 1957.

Disamping sebagai pematung, ayah dari 4 orang anak yaitu: Rosa Arus Sagara, Titiana, Irawani, Satya Sunarso, dan Sari Prasetyo Angkasa, buah perkawinannya dengan Kustiah ini juga aktif sebagai Dosen Pasca Sarjana (S2) Insitut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Di dunia pendidikan, sejak tahun 1958-1959 dia sudah aktif sebagai staf pengajar pada Akademi Kesenian Surakarta di Surakarta, kemudian pada tahun 1959-1967 mengajar pada Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ASRI Yogyakarta sebagai Ketua Jurusan Seni Patung. Pada tahun 1967-1981 sebagai tenaga pengajar pada Institut Kejuruan Ilmu Pendidikan Negeri (IKIP) Yogyakarta, dan pada tahun 1968-1984 sebagai pengajar merangkap asisten Ketua Bidang Akademik STSRI/ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, dan sebagai pengajar pada Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan sebagai Sekretaris Senat Instiut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Pria anggota Korps Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai mantan Pejuang Pasukan Samber Nyawa Divisi I, Bataliyon III, Resimen V Siliwangi ini beberapa kali mengadakan pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Pada tahun 1956, dia sudah mengadakan Pameran Tunggal di Santiniketan, India. Pada tahun 1957 dia juga mengadakan Pameran Tunggal di tempat yang sama dan mengikuti Pameran Nasional ALL India di India. Sedangkan pada tahun 1959, dia mengadakan Pameran Bersama Istri di Yogyakarta. Selanjutnya pada tahun 1987, bersama But Mohtar, G.Sidharta, Rita Widagdo, mereka mengadakan Pameran Berempat.

Disamping tanda kehormatan bintang Budaya Parama Dharma yang baru saja diterima, dia juga telah memiliki beberapa Tanda Penghargaan antar lain, Lomba seni Patung Internasional di Inggris The Unknoun Political Prosoner pada tahun 1953, Medali Emas dari Pemerintah India untuk Karya Seni Patung Terbaik pada tahun 1956-1957, Piagam Seni dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1984, dan Piagam Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk Karya Monumental pada tahun 1996.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

sumber : http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/e/edhi-sunarso/index.shtml


Barli Sasmitawinata
Barli Sasmitawinata adalah seorang maestro seni lukis realistik. Pria yang lahir di Bandung 18 Maret 1921 itu menjadi pelukis berawal atas permintaan kakak iparnya, tahun 1935, Sasmitawinata, agar Barli memulai belajar melukis di studio milik Jos Pluimentz, seorang pelukis asal Belgia yang tinggal di Bandung.

 

Barli lalu banyak belajar melukis alam benda dan dia adalah satu-satunya murid pribumi di studio tersebut. Di studio itu Barli banyak belajar mengenal persyaratan melukis.

Barli dilatih secara intensif melihat objek karena realistik masih sangat populer ketika itu. Pluimentz sang guru, pun selalu berkata, cara melihat seniman dan orang biasa harus berbeda. Orang biasa tidak mampu melihat aspek artistik sesuatu benda sebagaimana seniman.

Barli di kemudian hari belajar kepada Luigi Nobili, pelukis asal Italia. Di studio ini pula Barli mulai berkenalan dengan Affandi, yang waktu itu masih mencari uang dengan menjadi model bagi Luigi. Di studio milik Luigi Nobilo itu diam-diam Affandi ikut belajar melukis.

Bersama Affandi, Hendra Gunawan, Soedarso, dan Wahdi Sumanta, Barli Sasmitawinata membentuk “Kelompok Lima Bandung”. Kelompok itu dibentuk berawal dari kekaguman yang sangat dari seorang Barli dan ketiga temannya terhadap Affandi. Hubungan di antara kelima anggota kelompok akhirnya terbentuk menjadi seperti saudara saja. Kalau melukis kemana-mana selalu bersama-sama. Termasuk kesempatan perjalanan Barli hingga ke Bali.

Barli di tahun 1948 pernah mendirikan Sanggar Seni Rupa Jiwa Mukti. Lalu, sepulang dari Eropa, di tahun 1958 Barli kembali mendirikan studio Rangga Gempol. Sekarang Barli memiliki Bale Seni Barli di Padalarang. Barli menyebutkan sebuah cita-cita yakni ingin punya murid yang tidak saja pandai menggambar tetapi bisa hidup bersama dengan yang lain.

Barli adalah pelukis sekaligus guru. Sudah banyak mahasiswa yang dia ajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) maupun murid yang dia bimbing di sanggar seni miliknya, tumbuh menjadi seniman mandiri. Beberapa di antara mantan mahasiswa dan murid itu terkadang ada yang mengabaikan Barli sebagai guru. Namun, yang membanggakan hati dia, tokoh semacam AD Pirous tetap mengakui Barli sebagai salah seorang guru.

Selain AD Pirous, ada pula beberapa muridnya yang kini dikenang sebagai pelukis yang berkarakter, seperti (almarhum) Huang Fong. Atau, Chusin Setiadikara yang tetap memelihara bekal seni realistiknya tetapi menempuh jalan sulit untuk membuatnya menjadi seni yang terus bisa bermakna di tengah percaturan berbagai gaya dan kecenderungan seni yang baru.

Perjalanan karir lukis Barli dimulai sejak tahun 1930-an sebagai ilustrator terkenal di Balai Pustaka, Jakarta. Dia juga dipakai sebagai ilustrator untuk beberapa koran yang terbit di Bandung. Keterampilan tersebut masih berlanjut di tahun 1950-an saat dia sudah melangglang buana ke mancanegara. Yakni, ketika Barli diangkat menjadi ilustrator pada majalah De Moderne Boekhandel di Amsterdam, dan majalah Der Lichtenbogen di Recklinghausen, Jerman. Barli adalah contoh pelukis dan guru yang mendapatkan pendidikan secara baik sejak usia remaja sampai kemudian dia berkesempatan belajar ke Perancis dan Belanda.

Kesempatan Barli studi sekaligus berkiprah di benua Eropa berawal di tahun 1950 tatklala dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda untuk belajar di Academie Grande de la Chaumiere, Paris, Perancis. Barli masih meneruskan studi di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten, Amsterdam, Belanda, sampai tahun 1956. Karena kiprah kepelukisannya yang sedemikian panjang, kritikus seni Jim Supangkat dalam bukunya “Titik Sambung” menempatkan Barli Sasmitawinata sebagai ’titik sambung’ dua gugus perkembangan seni lukis Indonesia: seni lukis masa kolonial dan seni lukis modern Indonesia.

Dijelaskan oleh Jim, di satu sisi Barli dapat dilihat sebagai meneruskan perkembangan seni lukis masa kolonial. Tetapi di sisi lain Barli merupakan bagian dari pertumbuhan seni lukis modern Indonesia yang menentang seni lukis masa kolonial itu sendiri.

Pemerintah RI tampak sangat peduli atas perjalanan karir maestro seni lukis realistik Indonesia ini. Bertepatan dengan hari lahirnya pada 18 Maret 2004 beberapa karya lukisnya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta. Termasuk dipamerkan sebuah lukisan yang Barli selesaikan hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya ke-83, berukuran lebih dari dua meter kali dua meter. Pembukaan pameran dilakukan langsung oleh Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, I Gede Ardika, berlangsung sejak 18 hingga 31 Maret 2004.

 

Bahkan, PT Pos Indonesia turut menunjukkan penghargaan yang sangat tinggi kepada seniman besar kelahiran Bandung itu. Pos Indonesia khusus menerbitkan prangko yang bergambar reproduksi lukisan Potret Diri, sebuah lukisan terkenal yang Barli buat di tahun 1974.

Bersamaan perayaan ulang tahun ke-83 itu diluncurkan pula sebuah buku karangan Nakisbandiah, istri kedua Barli setelah istri pertama meninggal dunia 11 Juli 1991, berjudul “Kehidupanku Bersama Barli”. Barli pertamakali menikahi (almarhumah) Atikah Basari di Pager Ageung tahun 1946 pada saat masih berada di dalam pengungsian karena perang.

 

Pernikahan pertama itu dikaruniai dua orang anak bernama Agung Wiwekakaputera dan Nirwati Chandra Dewi. Barli lalu kembali menikah saat usia sudah 71 tahun, kali itu dengan Nakisbandiah yang masih tetap setia mendampingi hidupnya. Hasil pernikahan Nakisbandiah sebelumnya dengan (almarhum) D Mawardi dikaruniai empat orang putri, yaitu Kartini, Sartika, Mia Meutia (meninggal tahun 1977), dan Indira. Maka, secara keseluruhan keluarga Barli memiliki 15 cucu dan enam orang buyut.

Barli berperan cukup besar menularkan ilmu kepada murid-muridnya. Entah di kampusnya mengajar ITB Bandung maupun di sanggar seninya. Barli adalah contoh pelukis dan guru yang mendapatkan pendidikan secara baik sejak usia remaja sampai kemudian belajar seni lukis ke Perancis hingga Belanda.

Di Eropa Barli memperoleh banyak prinsip-prinsip melukis anatomi secara intensif. Pelajaran anatomi, untuk pelukis sangat melihat otot-otot yang ada di luar bukan otot yang di dalam. Pernah, selama dua tahun di Eropa Barli setiap dua jam dalam sehari hanya menggambar nude (orang telanjang) saja, sesuatu yang tidak pernah dipersoalkan pantas atau tidak di sana sebab jika untuk kepentingan akademis hal itu dianggap biasa.

Barli menyebutkan, seseorang lulusan dari akademis menggambar orang seharusnya pasti bisa sebab penguasaan teknis akan merangsang inspirasi. Dia mencontohkan pengalaman saat belajar naik sepeda sulit sekali sebab salah sedikit saja pasti jatuh. Namun saat sudah menguasai teknis bersepeda sesorang bisa terus mengayuh sambil pikiran bisa kemana-mana. Melukis pun demikian, jika sudah mengetahui teknisnya maka adalah pikiran dan perasaan pelukis yang jalan.

Walau pelukis realistik Barli mengaku cukup mengerti abstrak sebab menurutnya seni memang abstrak. Seni adalah nilai. Setiap kali melihat karya yang realistik Barli justru tertarik pada segi-segi abstraksinya. Seperti segi-segi penempatan komposisi yang abstrak yang tidak bisa dijelaskan oleh pelukisnya sendiri.

Barli menyebutkan pula, pelukis yang menggambar realistik sesungguhnya sedang melukiskan meaning. Dicontohkannya lagi, kalau melihat seorang kakek maka dia akan tertarik pada umurnya, kemanusiaannya. Sehingga pastilah dia akan melukiskannya secara realistik sebab soal umur tidak bisa dilukiskan dengan abstrak. Menggambarkan penderitaan manusia lebih bisa dilukiskan dengan cara realistik daripada secara abstrak.

 

Telah Pergi

Pelukis Barli Sasmitawinata meninggal pada Kamis 8 Februari 2007 sekitar pukul 16.25 di Rumah Sakit Advent,  Bandung pada usia 86 tahun. Jenazah disemayamkan di Museum Barli, Jl. Sutami , Kota Bandung.
 

Menurut Hendra (32), Guru Gambar di Bale Seni Barli, Barli dibawa ke RS Advent pada hari ini pukul 9.00 karena muntah-muntah. Ia meninggal pada pukul 16.25 dan dibawa ke rumah duka pukul 17.30. Banyak kerabat yang berdatangan untuk melayat. Dimakamkan pada Jumat (9/2/2007) di Taman Makam Pahlawan Cikutra.
 

Sebelumnya Barli dirawat di rumah sakit selama sebulan karena sakit usia lanjut. Baru Minggu (4/2/2007) Barli pulang kembali ke rumahnya. Selama di rumah, Barli sempat beramanat agar keluarga besar Bale Seni Barli memelihara lembaga pendidikan seni tersebut.
Barli juga sempat melukis. Sehari sebelum meninggal ia masih meneruskan lukisannya di kamar. Lukisan yang belum selesai itu masih belum diberi judul.
Suami dari Alm Atikah Basari dan Ratu Nakisbandiah ini meninggalkan dua anak Agung Wiwekakaputera dan Nirwati Chandra Dewi.  ►e-ti/ht

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

sumber : http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/barli-sasmitawinata/index.shtml


Affandi (1907-1990)

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.

Dari segi pendidikan, putra Cirebon kelahiran Cirebon tahun 1907 ini termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi generasinya yang kelahiran 1907, memperoleh pendidikan H.I.S, MULO, dan selanjutnya tamat dari A.M.S, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri. Namun bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.

Ketika Republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain “Merdeka atau mati!”. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno ‘Lahirnya Pancasila’, 1 Juni 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster itu idenya dari Bung Karno, gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Yang dijadikan model pelukis Dullah. Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di poster itu? Kebetulan muncul penyair Chairil Anwar. Soedjojono menanyakan kepada Chairil, maka dengan enteng Chairil ngomong: “BUNG, AYO BUNG!”

Dan selesailah poster bersejarah itu. Sekelompok pelukis siang malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah. Dari mana kah Chairil memungut kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu, biasa diucapkan oleh pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan dagangannya pada jaman itu.

Bakat melukis yang menonjol pada dirinya pernah enorehkan cerita menarik dalam kehidupannya. Suatu saat, dia pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, suatu Akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Ketika telah tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya digunakan untuk mengadakan pameran keliling negeri India.

Sepulang dari India, Eropa, pada tahun limapuluhan, Affandi dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante. Dan terpilihlah dia, seperti Frof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya katanya Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.

Lalu apa topik yang diangkat Affandi? “Kita bicara tentang Perikemanusiaan, lalu bagaimana tentang Perikebinatangan?” demikianlah dia memulai orasinya. Tentu saja yang mendengar semua tertawa ger-geran. Affandi bukan orang humanis biasa. Pelukis yang suka pakai sarung, juga ketika dipanggil ke istana semasa Suharto masih berkuasa dulu, intuisinya sangat tajam. Meskipun hidup di jaman teknologi yang sering diidentikkan jaman modern itu, dia masih sangat dekat dengan fauna, flora dan alam semesta ini. Ketika Affandi mempersoalkan ‘Perikebinatangan’ tahun 1955, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup masih sangat rendah.

Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi kebudayaan terbesar yang dibubarkan oleh rezim Suharto. Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.

Pada tahun enampuluhan, gerakan anti imperialis AS sedang mengagresi Vietnam cukup gencar. Juga anti kebudayaan AS yang disebut sebagai ‘kebudayaan imperialis’. Film-film Amerika, diboikot di negeri ini. Waktu itu Affandi mendapat undangan untuk pameran di gedung USIS Jakarta. Dan Affandi pun, pameran di sana.

Ketika sekelompok pelukis Lekra berkumpul, ada yang mempersoalkan. Mengapa Affandi yang pimpinan Lekra kok pameran di tempat perwakilan agresor itu. Menanggapi persoalan ini, ada yang nyeletuk: “Pak Affandi memang pimpinan Lekra, tapi dia tak bisa membedakan antara Lekra dengan Lepra!” kata teman itu dengan kalem. Karuan saja semua tertawa.

Dalam perjalanannya berkarya, pemegang gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.

Affandi memang hanyalah salah satu pelukis besar Indonesia bersama pelukis besar lainnya seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah dan lain-lain. Namun karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya sampai menganugerahinya berbagai sebutan dan julukan membanggakan antara lain seperti julukan Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia bahkan julukan Maestro. Adalah Koran International Herald Tribune yang menjulukinya sebagai Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia, sementara di Florence, Italia dia telah diberi gelar Grand Maestro.

Berbagai penghargaan dan hadiah bagaikan membanjiri perjalanan hidup dari pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini. Di antaranya, pada tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia pun mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia.

Dari dalam negeri sendiri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah diterimanya, di antaranya, penghargaan “Bintang Jasa Utama” yang dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978. Dan sejak 1986 ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Bahkan seorang Penyair Angkatan 45 sebesar Chairil Anwar pun pernah menghadiahkannya sebuah sajak yang khusus untuknya yang berjudul Kepada Pelukis Affandi.

Untuk menghargai karya-karya besarnya, berbagai lembaga atau yayasan juga berusaha mengabadikan kenang-kenangan pelukis besar ini. Pada tahun 1976, Prix International Dag Hammerskjoeld telah menerbitkan sebuah buku kenang-kenangan tentang “Affandi”. Buku setebal 189 halaman lebih itu diterbitkan dalam 4 bahasa, yaitu dalam bahasa Inggris, Belanda, Perancis, dan Indonesia. Demikian juga Penerbitan Yayasan Kanisius, telah menerbitkan sebuah buku tentang Affandi karya Nugraha Sumaatmadja pada tahun 1975.

Begitu pula dalam rangka memperingati 70 tahun Affandi pada tahun 1978, Dewan Kesenian Jakarta pun menerbitkan buku “Affandi 70 Tahun” susunan Ajip Rosidi, Zaini, Sudarmadji. Dan dalam rangka memperingati 80 tahun Affandi di tahun 1987, Yayasan Bina Lestari Budaya Jakarta, menerbitkan sebuah buku tentang “Affandi”. Buku yang disusun oleh Raka Sumichan dan Umar Kayam setebal 222 halaman lebih itu diterbitkan dalam dua bahasa yakni bahasa Inggris dan Indonesia.

Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat. Di negara India, dia telah mengadakan pameran keliling ke berbagai kota. Demikian juga di berbagai negara di Eropa, Amerika serta Australia. Di Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam, Brussels, Paris dan Roma. Begitu juga di negara-negara benua Amerika seperti di Brazilia, Venezia, San Paulo, dan Amerika Serikat. Hal demikian jugalah yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia.

Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Pelukis yang kesukaannya makan nasi dengan tempe bakar ini mempunyai idola yang terbilang tak lazim. Orang-orang lain bila memilih wayang untuk idola, biasanya memilih yang bagus, ganteng, gagah, bijak, seperti; Arjuna, Gatutkaca, Bima atau Werkudara, Kresna.

Namun, Affandi memilih Sokasrana yang wajahnya jelek namun sangat sakti. Tokoh wayang itu menurutnya merupakan perwakilan dari dirinya yang jauh dari wajah yang tampan. Meskipun begitu, Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) mengabadikan wajahnya dengan menerbitkan prangko baru seri tokoh seni/artis Indonesia. Menurut Helfy Dirix (cucu tertua Affandi) gambar yang digunakan untuk perangko itu adalah lukisan self portrait Affandi tahun 1974, saat Affandi masih begitu getol dan produktif melukis di museum sekaligus kediamannya di tepi Kali Gajahwong Yogyakarta.

Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali, Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu justru Affandi balik bertanya, ”Aliran apa itu?”.

Bahkan hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar.

Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh.
Sikap ‘’sang maestro” yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting.

Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan enteng, dia menjawab, ”Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan.” Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai ”tukang gambar”.

Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. ”Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis,” ucapnya.

Dari segi produktifitas, Affandi termasuk pelukis yang cukup produktif. Menurut Affandi sendiri, dia telah melukis lebih dari 2.000 buah lukisan dan sekitar 300 buah lukisan koleksi pribadinya kini disimpan di Museum Affandi, Jogyakarta. Museum yang diresmikan oleh Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu dalam sejarahnya telah pernah dikunjungi oleh Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad pada Juni 1988 kala keduanya masih berkuasa. Museum ini didirikan tahun 1973 di atas tanah yang menjadi tempat tinggalnya.

Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dikuburkan tidak jauh dari Museum yang didirikannya itu.

Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai kesejarahan mulai dari awal karirnya hingga selesai, sehingga tidak dijual. Sedangkan galeri II adalah lukisan teman-teman Affandi baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik, dan lain-lain. Adapun galeri III berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.

Di dalam galeri III yang selesai dibangun tahun 1997, saat ini terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada tahun 1999. Lukisan itu antara lain “Apa yang Harus Kuperbuat” (Januari 99), “Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi” (Februari 99), “Tidak Adil” (Juni 99), “Kembali Pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan KepadaNya” (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan Maryati, Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi.   ►mlp-juka

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

sumber : http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/affandi/index.shtml


Sindudarsono Sudjojono (1913-1985)

Dia pionir yang mengembangkan seni lukis modern khas Indonesia. Pantas saja komunitas seniman, menjuluki pria bernama lengkap Sindudarsono Sudjojono yang akrab dipanggil Pak Djon iini dijuluki Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. Dia salah seorang pendiri Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) di Jakarta tahun 1937 yang merupakan awal sejarah seni rupa modern di Indonesia.

Pelukis besar kelahiran Kisaran, Sumatra Utara, 14 Desember 1913, ini sangat menguasai teknik melukis dengan hasil lukisan yang berbobot. Dia guru bagi beberapa pelukis Indonesia. Selain itu, dia mempunyai pengetahuan luas tentang seni rupa. Dia kritikus seni rupa pertama di Indonesia.

Ia seorang nasionalis yang menunjukkan pribadinya melalui warna-warna dan pilihan subjek. Sebagai kritikus seni rupa, dia sering mengecam Basoeki Abdullah sebagai tidak nasionalistis, karena melukis perempuan cantik dan pemandangan alam. Sehingga Pak Djon dan Basuki dianggap sebagai musuh bebuyutan, bagai air dan api, sejak 1935.

Tapi beberapa bulan sebelum Pak Djon meninggal di Jakarta, 25 Maret 1985, pengusaha Ciputra mempertemukan Pak Djon dan Basuki bersama Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Sehingga Menteri P&K Fuad Hassan, ketika itu, menyebut pameran bersama ketiga raksasa seni lukis itu merupakan peristiwa sejarah yang penting.

Pak Djon lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa, buruh perkebunan di Kisaran, Sumatera Utara. Namun sejak usia empat tahun, ia menjadi anak asuh. Yudhokusumo, seorang guru HIS, tempat Djon kecil sekolah, melihat kecerdasan dan bakatnya dan mengangkatnya sebagai anak. Yudhokusumo, kemudianmembawanya ke Batavia tahun 1925.

Djon menamatkan HIS di Jakarta. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman Siswa di Yogyakarta. Dia pun sempat kursus montir sebelum belajar melukis pada RM Pirngadie selama beberapa bulan dan pelukis Jepang Chioji Yazaki di Jakarta.

Bahkan sebenarnya pada awalnya di lebih mempersiapkan diri menjadi guru daripada pelukis. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta, ia ditugaskan Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Madiun tahun 1931.

Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis modern Eropa, itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis. Pada tahun 1937, dia pun ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Jakarta. Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai awal yang memopulerkan namanya sebagai pelukis.

Bersama sejumlah pelukis, ia mendirikan Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), 1937. Sebuah serikat yang kemudian dianggap sebagai awal seni rupa modern Indonesia. Dia sempat menjadi sekretaris dan juru bicara Persagi.

Sudjojono, selain piawai melukis, juga banyak menulis dan berceramah tentang pengembangan seni lukis modern. Dia menganjurkan dan menyebarkan gagasan, pandangan dan sikap tentang lukisan, pelukis dan peranan seni dalam masyarakat dalam banyak tulisannya. Maka, komunitas pelukis pun memberinya predikat: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.

Lukisannya punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang monumental antara lain berjudul: Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Go Meh, Pengungsi dan Seko.

Dalam komunitas seni-budaya, kemudian Djon masuk Lekra, lalu masuk PKI. Dia sempat terpilih mewakili partai itu di parlemen. Namun pada 1957, ia membelot. Salah satu alasannya, bahwa buat dia eksistensi Tuhan itu positif, sedangkan PKI belum bisa memberikan jawaban positif atas hal itu. Di samping ada alasan lain yang tidak diungkapkannya yang juga diduga menjadi penyebab Djon menceraikan istri pertamanya, Mia Bustam. Lalu dia menikah lagi dengan penyanyi seriosa, Rose Pandanwangi. Nama isterinya ini lalu diabadikannya dalam nama Sanggar Pandanwangi. Dari pernikahannya dia dianugerahi 14 anak.

Di tengah kesibukannya, dia rajin berolah raga. Bahkan pada masa mudanya, Djon tergabung dalam kesebelasan Indonesia Muda, sebagai kiri luar, bersama Maladi (bekas menteri penerangan dan olah raga) sebagai kiper dan Pelukis Rusli kanan luar.

Itulah Djon yang sejak 1958 hidup sepenuhnya dari lukisan. Dia juga tidak sungkan menerima pesanan, sebagai suatu cara profesional dan halal untuk mendapat uang. Pesanan itu, juga sekaligus merupakan kesempatan latihan membuat bentuk, warna dan komposisi.

Ada beberapa karya pesanan yang dibanggakannya. Di antaranya, pesanan pesanan Gubernur DKI, yang melukiskan adegan pertempuran Sultan Agung melawan Jan Pieterszoon Coen, 1973. Lukisan ini berukuran 300310 meter, ini dipajang di Museum DKI Fatahillah.

Secara profesional, penerima Anugerah Seni tahun 1970, ini sangat menikmati kepopulerannya sebagai seorang pelukis ternama. Karya-karyanya diminati banyak orang dengan harga yang sangat tinggi di biro-biro lelang luar negeri. Bahkan setelah dia meninggal pada tanggal 25 Maret 1985 di Jakarta, karya-karyanya masih dipamerkan di beberapa tempat, antara lain di: Festival of Indonesia (USA, 1990-1992); Gate Foundation (Amsterdam, Holland, 1993); Singapore Art Museum (1994); Center for Strategic and International Studies (Jakarta, Indonesia, 1996); ASEAN Masterworks (Selangor, Kuala Lumpur, Malaysia, 1997-1998). ►e-ti/tsl, dari berbagai sumber.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

sumber : http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/sindudarsono-sudjojono/


Temukan karya-karya berkwalitas hanya di sini
Bazar Seni Rupa Terbesar ( Ancol Art Festival )

Jambore Seni Rupa Nasional XIII
22-31 Agustus 2008, Pasar Seni Ancol

  • Redloock Reggae
  • Campursari
  • Gianna And Friends
  • B Plus Band
  • Java Holic Gang Kobra
  • Working Class Hero
  • Mbah Surip
  • Top 40

Stand UNJ

  • Mural
  • Workshop Clay (Lomba menghias kaleng, lukis topi, melukis botol, Poster)

UNJ Band

  • Masked Hero
  • Have Fun
  • Married with Monkey
  • Good Feeling
  • Harapan Bangsa
  • Squirm On The Stage
  • Mono and Stereo
  • Lips of the Devil, Anak Mami
  • River, The Anggun, Su’udzon
  • Band OHM

Performance Art

Pameran Kompetisi Seni Lukis Nasional

Gelar Budaya Asmat ( Pesta IMMI )

  • Demo Ukir Asmat
  • Atraksi Tari, Tifa
  • Upacara Pembakaran Perahu
  • Manuver Perahu
  • Pangkur Sagu
  • Lelang karya-karya
sumber : http://festivalindonesia.wordpress.com/